Bahasa Dalam Persfektif Mata Sosial Di Abad Milenial

Terkini.id, Sukabumi - Menurut beberapa ahli yang saya himpun dari berbagai sumber, Seperti Ferdinand De Saussure yang lahir pada tanggal 26 November 1857 di Geneva Swiss dan meninggal dunia pada tanggal 22 Februari 1913. Urusan linguistik atau ilmu bahasa dirinya telah banyak memberikan pandangan-pandangan tentang linguistik. Bahwa bahasa menurut dirinya  adalah salah satu ciri yang menjadi pembeda, urusan ini sebab dengan menggunakan bahasa maka setiap kumpulan yang terdapat pada masyarakat bisa menjadi dirinya sebagai kesatuan yang bertolak belakang dengan kumpulan lain.

Sedangkan Plato Seorang Filusuf Yunani yang lahir sekitar 427 SM dan meninggal sekitar 347 SM) dirinya berpendapat bahwa definisi bahasa adalah pernyataan yang terdapat pada benak seseorang dengan menggunakan perantaraan rhemata (ucapan) serta onomata (nama benda atau sesuatu) yang merupakan gambaran ide seseorang dalam arus udara dengan melewati media yakni mulut.

Carol Doris Schatz kelahiran 1 Juli 1930 di Philadelphia Dia dianugerahi gelar sarjana dalam bahasa Prancis dari Universitas Pennsylvania pada tahun 1951, dirinya memperoleh gelar doktor dalam bidang linguistik dari Universitas Harvard pada tahun 1968. Dirinya berpendapat mengenai bahasa, bahwa Bahasa adalah sistem berstruktural mengenai bunyi serta urutan bunyi bahasa yang mempunyai sifat manasuka, yang digunakan ataupun dapat dipakai untuk berkomunikasi antar sesama sekelompok insan dan secara agak tuntas guna memberi nama kepada sekian banyak jenis benda, peristiwa, serta proses yang terdapat dalam lingkungan hidup umat manusia.

Jadi, hemat saya berdasarkan pada ahli bahasa tersebut, bahwa bahasa akan menjadi sistem sosial dari jaman ke jaman sesuai peradabannya bisa diartikan juga sebagai suatu sistem dalam kehidupan sehari-hari yang bersosial dan bermasyarakat, berbangsa,  bernegara serta beragama adalah hal yang paling penting  dalam menjalankan komunikasi adalah bahasa, karena untuk menyampaikan maksud dan tujuan agar bisa diterima dan di fahami seutuhnya oleh manusia baik itu berhubungan dengan lingkungan sosial,  Alam, Tuhan, atau Habbluminnas, Habbluminalalam dan Habbluminnaallah.

Peran penting bahasa ini atau dengan istilah disiplin ilmunya dinamakan Liguistik sangat menentukan sekali dalam kemajuan dan perkembangan peradaban di dunia ini, hubungan bersosial adalah sebagai bukti bahwa bahasa itu sebagai sistem yang lahir dari berbagai aspek kebutuhan dalam memenuhi keinginan sebagai pencapaiannya.

Dalam kehidupan sosial yang kompkeks dengan berbagai aturan dan sistem baik dari sisi kebangsaan atau kenegaraan serta dari sisi keagamaan. Jika bahasa sukar difahami maka disini sumber dari berbagai masalah dan juga sumber dari berbagai kebaikan dan harmonisasi yang terlahir dalam kesadaran sebagai mahluk sosial jika bahasa mampu difahami.
Jika bahasa tidak bisa menerjemakahan situasi kontektual dan tekxtual, jelas akan terjadi berbagai masalah karena akan timbulnya kesalah fahaman yang rumit. Dan tatanan sosial serta peradaban pun akan rusak karena kesalah fahaman tersebut.

Namun sebaliknya, jika bahasa mampu menerjemakahan situasi kontektual dan tekxtual, jelas akan terjadi harmonisasi yang indah. Dan tatanan sosial serta peradaban pun akan maju dan berkembang dengan baik.

Bahasa dalam sistem Sosial atau Habbluminnas. 
Di abad milineal ini, bahasa adalah menjadi sesuatu yang sangat sensitif dan perlu kehati-hatian dalam menyampaikan sesuatu maksud dan tujuan agar tida berpotensi timbulnya kesalah fahaman yang mengakibatkan ketersinggungan yang lainnya yang pada akhirnya bisa  menjadikan urusan itu secara hukum yang berlaku di suatu negara.

Sering kali masyarakat dihadapkan dengan berbagai permasalahan dalam kehidupan sosial, baik itu sosial politik, sosial agama, sosial hukum, sosial ekonomi, dan lain sebagainya. Yang didasari permaslahan itu oleh  Interaksi sosial yang kurang bijak dalam berbahasa. 

Sebagai contoh umum adalah banyaknya kasus-kasus pencemaran nama baik, maka dalam hal ini pun peran penting ahli bahasa selalu dihadirkan untuk kajian dan membedah maksud dan tujuan bahas yang digunakan tersebut. Apakah bahasa itu masuk dalam ranah pencemaran seseorang, penghinaan, penghasutan dan lainnya yang bisa mengakibakan berurusan dengan hukum.

Dalam Islam, untuk menjaga interaksi sosial agar selalu ada dalam kedamaian dan keharmonisan adalah dengan menjaga silaturahmi satu sama lainnya, karena dengan silaturahmi kita bisa saling menegenal dan memahami karakter satu sama lainnya termasuk karakter dalam kebijkasanan penggunan bahasa itu sendiri. 

Silaturahmi dalam ajaran Islam adalah wajib, hal tersebut untuk menjaga kesehatan serta memudahkan rezeki dan sebagai wujud ketaqwaan terhadap Allah Subhanuhu Wa ta’ala. Sesuai  dengan sabda Rasulullah: Allah 'azza wa jalla berfirman: "Aku adalah Ar-Rahman. Aku menciptakan rahim dan Aku mengambilnya dari nama-Ku. Siapa yang menyambungnya, niscaya Aku akan menjaga hak nya. Dan siapa yang memutusnya, niscaya Aku akan memutus darinya." (HR. Ahmad). "Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia memuliakan tamunya. Dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia menyambung hubungan silaturahmi." (HR. Abu Hurairah).
Diabad milineal ini, silaturahmi bisa sangat mudah dijalankan dengan adanya teknologi komunikasi yang semakin canggih dan dinamis, seperti berbagai aplikasi media sosial. Dan kuncinya adalah bagai mana kita bijak dalam menggunakan bahasa di berbagai aplikasi teknologi tersebut dan atau dalam interaksi sosial langsung dalam keseharian.

Bahasa dalam sistem Habbluminalalam
Selain interaksi sosial dengan sesama manusia, kita juga dituntut untuk berinteraksi dengan alam atau Habbluminalalam hubungan manusia dengan alam, tentu inertaksi ini sangat berbeda. Disini ada unsur kepekaan yang lebih dalam untuk memahmi apa yang tersirat dari alam sekitar kita. Disini tidak ada pencemaran nama baik yang ada pastinya pencemaran lingkungan, dan perusakan alam karena kita berhubungan dengan alam.

Sebagai contoh umum dalam hal ini adalah bagai mana kita mampu menangkap pesan-pesan alam yang diproduksi oleh ide dan gagsan kita baik melalui kajian ilmiah atau secara transedental, perkiraan cuaca dan pengawetan mayat atau mumi dan lainnya.

Dengan adanya perkiraan cuaca berati kita seolah komunikasi menangkap pesan bahasa dari alam yang di terjemahkan oleh berbagai sistem sehingga bisa memperedeksi cuaca. Dalam ajaran islam sangat jelas sekali bagai mana peran kita terhadap alam ini.

Sebagai mahluk Allah Subhanahu wa Ta’ala, kita ditugaskan untuk beribdah dan berbuat baik terhadap sesama dan juga alam ini, bagai mana kita menjaga lingkungan agar selalu bersih, segar, dan menyehatkan, kita perlakukan alam dengan kodratnya sebagai pendukung dan penunjang serta fasilitas keberlangsungan kehidupan umat manusia di muka bumi ini.

Jika kita merawatnya dengan baik, maka jelas manfaat berkesinambungan terus mengalir. Namun jika kita merusaknya, maka ancaman Allah Subhanu wa Ta’ala sangat jelas dalam Alquran:
"Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” (Q.S. Ar Rum:41).

Bahasa Dalam Sistem Habbluminnaallah
Dalam berbabagai tafsir seperti dalam tafsir, Al-Baghawi, dan tafsir Ibnu Katsir, serta At-Thabari adalah "Perjanjian dari Allah, maksudnya adalah masuk Islam atau beriman dengan Islam sebagai jaminan keselamatan bagi mereka di dunia dan di akhirat". 

Bagai mana kita memahami ayat-ayat atau firman Allah Subhanahu wa Ta’ala yang tersurat atau pun yang tersirat agar kita bisa menjlankan pesan-pesan dari pada-Nya. Disini peran bahasa sanagat penting dan vital sekali.
Allah Subhanuhu wa Ta’ala  juga berfirman:
 “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, Ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri.” (QS. An-Nisa ayat 36).
"Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (Qs. Ad-Dzuriat : 56).

Jadi sangat jelas sekali kita diwajibkan berinteraksi atau komunikasi dengan Sang Maha Pencipta Pemilik bahasa ini (Allah Subhanhu wa Ta’ala) dengan cara menjalankan perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, dan selalu memanjatkan do’a kepada-Nya.

Bahasa dalam persfektif Mata Sosial di abad milenial ini adalah tidak terlepas dari tiga bagian cara berkomunikasi yaitu berhubungan dengan lingkungan sosial,  Alam, Tuhan, atau Habbluminnas, Habbluminalalam dan Habbluminnaallah seperti yang telah saya paprkan tadi secara singkat dan sederhana.
Walau pun di abad milenial ini serba canggih dan dinamis, namun tetap yang lebih canggih adalah ketika kita bijak menggunakan dan memahami bahasa dalam situasi yang serba canggih ini untuk mencapai pesan-pesan yang Allah Subhanahu wa Ta’ala turunkan buat mahluk-NYA.  
wallahualam bissawab
Dari berbagai sumber.

Penulis Aa Ruslan Sutisna / Ruslan Raya (Mata Sosial)

Konten ini diproduksi oleh Sukabumi Terkini